jump to navigation

7 Cara Efektif Berkomunikasi Juni 4, 2008

Posted by arifinmh in Uncategorized.
add a comment
1. Hindari kesan memaksa

Ketika kita berkomunikasi hindari kalimat : “Kamu harus……”
baiknya diganti
dengan “Sebaiknya kamu…….” atau ”Maukah kamu......”

2. Fokus kepada solusi bukan masalah
Ketika berkomunikasi fokuskan kepada hal yang menjadi solusi bukan
masalah.
Contoh : Ketika makanan di rumah habis, tidaklah efektif jika kita
berkata
”Aduh Lapar banget......” lebih baik kita berkata ”Yuuk, beli
 makanan di luar......”

3. Ubah ”kata tidak bisa ” menjadi ”bisa”
Ketika kita diminta untuk mengadakan pertemuan, lebih baik anda
mengatakan
”Kita bisa mengadakan pertemuannya minggu depan” daripada berkata
 ”Kita tidak bisa ketemuan sampai minggu depan” walaupun dua kalimat dengan
 arti yang sama tapi estetikanya berbeda.

4. Ambil tanggung jawab dan jangan menyalahkan
Hindari kalimat ” Ini bukan salahku” lebih baik ganti dengan
kalimat ” Apa yang bisa saya lakukan untuk memperbaikinya”

5. Katakan apa yang anda inginkan bukan yang tidak anda inginkan
Jika anda tidak ingin seseorang menyetir ngebut, lebih baik berkata
”Tolong bawa mobilnya hati-hati” daripada anda berkata ”Jangan bawa
mobilnya terlalu kencang” 

6. Fokus pada masa depan bukan masa lalu
Jika ada kesalahan teman anda daripada anda berkata “ Saya sudah
bilang sebelumnya.....” lebih baik diganti dengan ” Mulai sekarang,
kita.........”

7. Bagikan informasi bukan argumen
Hindari kalimat, ”Tidak, kamu salah......” lebih baik diganti
dengan ”Saya ingin sepeti ini.......”

Selamat mencoba dan rsakan nikmatnya berkomunikasi...

sumber : Millis Dikmenjur ["Kursus IBSC" <kursusibsc@yahoo.co.id>]

9 Cara Bersedekah Juni 3, 2008

Posted by arifinmh in Uncategorized.
add a comment
Bersedekah merupakan merupakan salah satu point yang diberikan oleh Allah kepada seluruh umat islam untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagian baik di dunia dan akherat. salah satu keuntungan dari bersedakah dapat mencegah diturunkannya bencana, malapetaka atau adzab dari Allah SWT. selain itu juga Allah sudah menjanjikan untuk melipatkan gandakan 10 kali lipat pahala orang yang bersedekah (penulis).Berikut Macam-Macam Shadaqah

Rasulullah saw. dalam hadits di atas menjelaskan tentang cakupan shadaqah yang begitu luas, sebagai jawaban atas kegundahan hati para sahabatnya yang tidak mampu secara maksimal bershadaqah dengan hartanya, karena mereka bukanlah orang yang termasuk banyak hartanya. Lalu Rasulullah saw. menjelaskan bahwa shadaqah mencakup:

1. Tasbih, Tahlil dan Tahmid

Rasulullah saw. menggambarkan pada awal penjelasannya tentang shadaqah bahwa setiap tasbih, tahlil dan tahmid adalah shadaqah. Oleh karenanya mereka ‘diminta’ untuk memperbanyak tasbih, tahlil dan tahmid, atau bahkan dzikir-dzikir lainnya. Karena semua dzikir tersebut akan bernilai ibadah di sisi Allah swt. Dalam riwayat lain digambarkan:

Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw. berkata, “Bahwasanya diciptakan dari setiap anak cucu Adam tiga ratus enam puluh persendian. Maka barang siapa yang bertakbir, bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan, amar ma’ruf nahi mungkar, maka akan dihitung sejumlah tiga ratus enam puluh persendian. Dan ia sedang berjalan pada hari itu, sedangkan ia dibebaskan dirinya dari api neraka.” (HR. Muslim)

2. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Setelah disebutkan bahwa dzikir merupakan shadaqah, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi mungkar juga merupakan shadaqah. Karena untuk merealisasikan amar ma’ruf nahi mungkar, seseorang perlu mengeluarkan tenaga, pikiran, waktu, dan perasaannya. Dan semua hal tersebut terhitung sebagai shadaqah. Bahkan jika dicermati secara mendalam, umat ini mendapat julukan ‘khairu ummah’, karena memiliki misi amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam sebuah ayat-Nya Allah swt. berfirman:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Ali Imran (3): 110]

3. Hubungan Intim Suami Istri

Hadits di atas bahkan menggambarkan bahwa hubungan suami istri merupakan shadaqah. Satu pandangan yang cukup asing di telinga para sahabatnya, hingga mereka bertanya, “Apakah salah seorang diantara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan shadaqah?” Kemudian dengan bijak Rasulullah saw. menjawab, “Apa pendapatmu jika ia melampiaskannya pada tempat yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskannya pada yang halal, ia akan mendapat pahala.” Di sinilah para sahabat baru menyadari bahwa makna shadaqah sangatlah luas. Bahwa segala bentuk aktivitas yang dilakukan seorang insan, dan diniatkan ikhlas karena Allah, serta tidak melanggar syariah-Nya, maka itu akan terhitung sebagai shadaqah.

Selain bentuk-bentuk di atas yang digambarkan Rasulullah saw. yang dikategorikan sebagai shadaqah, masih terdapat nash-nash hadits lainnya yang menggambarkan bahwa hal tersebut merupakan shadaqah, diantaranya adalah:

4. Bekerja dan memberi nafkah pada sanak keluarganya

Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits: Dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi ra, dari Rasulullah saw. berkata, “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi shadaqah.” (HR. Ibnu Majah)

5. Membantu urusan orang lain

Dari Abdillah bin Qais bin Salim Al-Madani, dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, “Setiap muslim harus bershadaqah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah, jika ia tidak mendapatkan (harta yang dapat disedekahkan)?” Rasulullah saw. bersabda, “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya untuk dirinya dan bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau bersabda, “Menolong orang yang membutuhkan lagi teranaiaya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Mengajak pada yang ma’ruf atau kebaikan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari perbuatan buruk, itu merupakan shadaqah.” (HR. Muslim)

6. Mengishlah dua orang yang berselisih

Dalam sebuah hadits digambarkan oleh Rasulullah saw.: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Setiap ruas-ruas persendian setiap insan adalah shadaqah. Setiap hari di mana matahari terbit adalah shadaqah, mengishlah di antara manusia (yang berselisih adalah shadaqah).” (HR. Bukhari)

7. Menjenguk orang sakit

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Ubaidah bin Jarrah ra berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menginfakkan kelebihan hartanya di jalan Allah swt., maka Allah akan melipatgandakannya dengan tujuh ratus (kali lipat). Dan barangsiapa yang berinfak untuk dirinya dan keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri, maka mendapatkan kebaikan dan kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Puasa itu tameng selama ia tidak merusaknya. Dan barangsiapa yang Allah uji dengan satu ujian pada fisiknya, maka itu akan menjadi penggugur (dosa-dosanya).” (HR. Ahmad)

8. Berwajah manis atau memberikan senyuman

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menganggap remeh satu kebaikan pun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika menemui saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau membeli daging, atau memasak dengan periuk/kuali, maka perbanyaklah kuahnya dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Turmudzi)

9. Berlomba-lomba dalam amalan sehari-hari (baca: yaumiyah)

Dalam sebuah riwayat digambarkan: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bersabda, “Siapakah hari ini yang mengantarkan jenazah orang yang meninggal?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberikan makan pada orang miskin?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Siapakah di antara kalian yang hari ini telah menengok orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari)

Berikut ini kajian ilmiahnya tentang bersedeqah

Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Sanad Hadits

Hadits di atas memiliki sanad yang lengkap (sebagaimana yang terdapat dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Zakat, Bab Bayan Anna Ismas Shadaqah Yaqa’u Ala Kulli Nau’ Minal Ma’ruf, hadits no 1006).

Gambaran Umum Tentang Hadits

Hadits ini memberikan gambaran luas mengenai makna shadaqah. Karena digambarkan bahwa shadaqah mencakup segenap sendi kehidupan manusia. Bukan hanya terbatas pada makna menginfakkan uang di jalan Allah, memberikan nafkah pada fakir miskin atau hal-hal sejenisnya. Namun lebih dari itu, bahwa shadaqah mencakup segala macam dzikir (tasbih, tahmid dan tahlil), amar ma’ruf nahi mungkar, bahkan hubungan intim seorang suami dengan istrinya juga merupakan shadaqah. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. secara tersirat meminta kepada para sahabatnya untuk pandai-pandai memanfaatkan segala aktivitas kehidupan agar senantiasa bernuansakan ibadah. Sehingga tidak perlu ‘gusar’ dengan orang-orang kaya yang selalu bersedekah dengan hartanya. Karena makna shadaqah tidak terbatas hanya pada shadaqah dengan harta.

Asbabul Wurud Hadits

Hadits ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan beberapa Muhajirin yang fakir, dimana mereka ‘terpaksa’ meninggalkan harta benda mereka di Mekah, sehingga mereka merasa tidak dapat bershadaqah. Ketika pertanyaan mereka terlontar ke Rasulullah saw., beliau memberikan jawaban yang dapat menenangkan jiwa dan pikiran mereka.

Makna Hadits

Hadits ini muncul dengan latar belakang ‘kegundahan hati’ para sahabat, manakala mereka merasa tidak dapat optimal dalam beribadah kepada Allah swt.. Karena mereka merasa bahwa para sahabat-sahabat yang memiliki kelebihan harta, kemudian menshadaqahkan hartanya tersebut, tentulah akan mendapatkan derajat yang lebih mulia di sisi Allah swt.. Sebab mereka melaksanakan shalat, puasa, namun mereka bersedekah, sedangkan kami tidak bersedekah, kata para sahabat ini.

Akhirnya Rasulullah saw. sebagai seorang murabbi sejati memberikan motivasi serta dorongan agar mereka tidak putus asa, dan sekaligus memberikan jalan keluar bagi para sahabat ini. Jalan keluarnya adalah bahwa mereka dapat bershadaqah dengan apa saja, bahkan termasuk dalam hubungan intim suami istri. Oleh karenanya tersirat bahwa Rasulullah saw. meminta kepada mereka agar padai-pandai mencari peluang ‘pahala’ dalam setiap aktivitas kehidupan sehari-hari, agar semua hal tersebut di atas terhitung sebagai shadaqah.

Pengertian Shadaqah

Secara umum shadaqah memiliki pengertian menginfakkan harta di jalan Allah swt.. Baik ditujukan kepada fakir miskin, kerabat keluarga, maupun untuk kepentingan jihad fi sabilillah. Makna shadaqah memang sering menunjukkan makna memberikan harta untuk hal tertentu di jalan Allah swt., sebagaimana yang terdapat dalam banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah Al-Baqarah (2): 264 dan Al-Taubah (9): 60.

Kedua ayat di atas menggambarkan bahwa shadaqah memiliki makna mendermakan uang di jalan Allah swt. Bahkan pada ayat yang kedua, shadaqah secara khusus adalah bermakna zakat. Bahkan banyak sekali ayat maupun hadits yang berbicara tentang zakat, namun diungkapkan dengan istilah shadaqah.

Secara bahasa, shadaqah berasal dari kata shidq yang berarti benar. Dan menurut Al-Qadhi Abu Bakar bin Arabi, benar di sini adalah benar dalam hubungan dengan sejalannya perbuatan dan ucapan serta keyakinan. Dalam makna seperti inilah, shadaqah diibaratkan dalam hadits: “Dan shadaqah itu merupakan burhan (bukti).” (HR. Muslim)

Antara zakat, infak, dan shadaqah memiliki pengertian tersendiri dalam bahasan kitab-kitab fiqh. Zakat yaitu kewajiban atas sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu dan untuk kelompok tertentu.

Infak memiliki arti lebih luas dari zakat, yaitu mengeluarkan atau menafkahkan uang. Infak ada yang wajib, sunnah dan mubah. Infak wajib di antaranya adalah zakat, kafarat, infak untuk keluarga dan sebagainya. Infak sunnah adalah infak yang sangat dianjurkan untuk melaksanakannya namun tidak menjadi kewajiban, seperti infak untuk dakwah, pembangunan masjid dan sebagainya. Sedangkan infak mubah adalah infak yang tidak masuk dalam kategori wajib dan sunnah, serta tidak ada anjuran secara tekstual ayat maupun hadits, diantaranya seperti infak untuk mengajak makan-makan dan sebagainya.

Shadaqah lebih luas dari sekedar zakat maupun infak. Karena shadaqah tidak hanya berarti mengeluarkan atau mendermakan harta. Namun shadaqah mencakup segala amal atau perbuatan baik. Dalam sebuah hadits digambarkan, “Memberikan senyuman kepada saudaramu adalah shadaqah.”

Makna shadaqah yang terdapat dalam hadits di atas adalah mengacu pada makna shadaqah di atas. Bahkan secara tersirat shadaqah yang dimaksudkan dalam hadits adalah segala macam bentuk kebaikan yang dilakukan oleh setiap muslim dalam rangka mencari keridhaan Allah swt. Baik dalam bentuk ibadah atau perbuatan yang secara lahiriyah terlihat sebagai bentuk taqarrub kepada Allah swt., maupun dalam bentuk aktivitas yang secara lahiriyah tidak tampak seperti bertaqarrub kepada Allah, seperti hubungan intim suami istri, bekerja, dsb. Semua aktivitas ini bernilai ibadah di sisi Allah swt.

Sumber : http://kebunhikmah.com
Judul Asli : Makna Shadaqah
Oleh: Rikza Maulan, M.Ag
www.dakwatuna.com

bacalah ! atas nama Tuhanmu Juni 2, 2008

Posted by arifinmh in Uncategorized.
add a comment

iqro atau bacalah atas nama Tuhanmu ini, mungkin yang sangat cocok untuk menggambarkan sebuah tulisan yang ditulis dari pena sang penulis produktif dinegeri kita tercinta ini yakni oleh Oleh : Reza Ervani tentang sastra, Buku dan Peradaban. tanpa mengurangi isi dari tulisan ini saya ingin mengajak pada para pembaca untuk memulai membaca, bekerja, belajar dan berdiam atau istrahat dalam kondisi apapun semuanya dilandasi atas nama Tuhan (Allah SWT) sehingga setiap detik dan langkah-langkah kita merupakan serangkaian nilai-nilai yang akan dapat dinikmati kelak di hadapan-Nya. berikut petikan konkritnya :

Bismilahirrahmanirr ahiim

Syeikh Abdul Halim Mahmud (mantan Pemimpin tertinggi Al Azhar Mesir)
menulis dalam bukunya al Quran fii syahr al Quran bahwa :

Dengan kalimat Iqra’ bismi rabbik, Al Quran tidak sekedar memerintahkan
untuk membaca, tapi `membaca’ adalah lambang dari segala apa yang
dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat
tersebut dalam pengertian dan semangatnya ingin menyatakan `Bacalah demi
Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu’. Demikian
juga apabila anda berhenti bergerak atau berhenti melakukan sesuatu
aktifitas, maka hendaklah hal tersebut juga didasarkan pada bismi rabbik
sehingga pada akhirnya ayat tersebut berarti `Jadikan seluruh
kehidupanmu, wujudmu, dalam cara dan tujuannya, kesemuanya demi karena
Allah’

Sayyid Quthb dalam fii Zhilal menuliskan ketika menafsirkan surah Al
Alaq :

…., tampak jelas pula hakikat pengajaran Tuhan kepada manusia dengan
perantaraan `kalam’ (pena dan segala sesuatu yang semakna dengannya).
Karena, kalam merupakan alat pengajaran yang paling luas dan paling
dalam bekasnya di dalam kehidupan manusia.

Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al Mishbah menuliskan :

… Dari uraian diatas kita dapat menyatakan bahwa kedua ayat diatas
menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah swt dalam mengajar manusia.
Pertama, melalui pena (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia …
***

Tiga kutipan diatas tampaknya sudah cukup untuk mengantar sebuah
pernyataan bahwa membaca dan menulis adalah sebuah kerja peradaban.

Kenapa Rasulullah saw mendapatkan mu’jizat berupa sebuah kitab suci,
bukan keajaiban membelah lautan, bukan keajaiban menghidupkan orang
mati, dan bukan keajaiban-keajaiban yang sulit dicari alasan ilmiahnya
atau bahkan riwayat shohihnya. Karena peradaban akhir zaman dibangun
diatas kerja membaca dan menulis.

Jadi naif rasanya, jika kegiatan membangun sebuah peradaban baru,
dilakukan dengan melupakan kerja membaca dan menulis. Nonsense rasanya,
jika visi membangun pendidikan yang lebih baik dilakukan dengan
melupakan dunia pena dan pustaka.

Sejarah sering menceritakan kepada kita, betapa mujahid sejati
senantiasa basah dengan darah di medan perang dan basah pula dengan
tinta di medan pemikiran.

Yang kurang dari bangsa besar inipun sebenarnya cuma satu, menulis dan
membaca dengan seksama.

Kita lebih sering berkomentar dan berceloteh sebelum usai membaca. Usai
membaca bukanlah khatam sekali dua, karena mungkin ada kata simpul yang
tak tercerna, mungkin ada kalimat kunci yang belum terbuka, mungkin ada
makna yang belum terkuak.

Dalam bahasa Quran, dikenal dengan istilah tartil, yang terambil dari
kata ratala yang antara lain berarti serasi dan indah. Ucapan-ucapan
yang disusun secara rapi dan diucapkan dengan baik dan benar dilukiskan
dengan kata-kata tartil al Kalam.

Mungkin karena kita jarang membaca dengan tartil, lahirlah
pendapat-pendapat prematur yang jangankan masuk ke ranah ilmiah,
dipahamipun sulit jadinya. Lalu ditanam pula pendapat-pendapat itu pada
lahan yang kering sehingga berbuah selisih paham dan debat
berkepanjangan. Naudzubillahi min dzalik.

Sebuah buku tak hanya judul yang terpampang di sampul, tapi alur
halaman-halamannya merupakan buah pikir yang dirapikan dengan seksama,
ditelaah kembali dengan membaca dan membandingkan. Mungkin karena itu
berat bagi komentator dan spesialis penulis kata pengantar untuk
melahirkan sekian banyak buku. Bukan karena sulit, tapi pola pikiran
yang masih terlalu acak dan eksplosif sangat rumit untuk diterjemahkan
dalam lembaran-lembaran terstruktur. Allahu `Alam.

Pikiran-pikiran yang rapi, bab-bab yang rapi, hingga judul yang rapi
kadang hilang makna pula, jika tak bertemu pembaca yang memiliki jeda
waktu yang rapi untuk berhenti sejenak memahami emosi yang tersembunyi
dibalik rangkaian huruf.

Orang-orang dengan jeda teratur inilah yang kekuatan katanya harus pula
didengarkan oleh mereka yang berjuang dalam kata dan kalimat. Karena
jeda mereka mengantarkan orang-orang itu mampu menelaah sekian banyak
lembar yang terkadang tak sempat tersentuh oleh seorang penulis.
Mungkin itu alasan kenapa Quran menyandingkan pendengaran setelah hati,
sebelum penglihatan. Karena mendengar lebih sulit daripada melihat.
Membaca seksama jauh lebih sulit daripada melihat sekilas. Tak perlu
alasan, karena anda pasti mendengar bisikan sang penulis ketika melihat
rangkaian kalimatnya dengan teliti, tapi dapat dipastikan bahwa anda
hanya akan mendengar komentar emosi hati sendiri ketika membacanya tanpa
jeda.

Begitu pula peradaban, ia tidak lahir serta merta. Kalaupun ada, pondasi
rapuhnya hanya akan mengantarkannya pada era sejarah, yang kadang bisa
terkenang, tapi lebih banyak tidak. Pondasinya lahir dari telaah
mendalam yang merupakan buah dari kerja `membaca’. Lembaran-lembaran itu
nantinya berubah menjadi nilai yang menjaga dan memberi warna. Jika
begitu banyak lembaran yang salah dan tidak ada yang meluruskan, maka
kehancurannya hanyalah persoalan waktu.

Jadi jika ada yang bertanya kepada seorang muslim tentang cara ia
membangun peradaban baru, maka dengan singkat ia menjawab,”Iqro,
bismirabbikaladzi khalaq”

Dinamika peradaban yang dibaca dengan seksama.
Membaca seksama yang mengkristal menjadi pikir yang mendalam.
Buah pikir mendalam yang digubah secara teliti menjadi Sastra.
Sastra yang dirapikan dalam sebuah buku.
Akan mengantarkan kita kepada pintu peradaban yang diimpikan.
Peradaban yang dibangun dengan Nama Tuhan yang Menciptakan.

Insya Allah.

Bandung, 26 Jumadil Ula 1429 H, berteman Teh Melati hangat buatan Istri
Kutulis untuk sahabat Fiyan Arjun, jangan biarkan penamu mengering
karena komentar lima menit, juga buat crew Penerbitan Rumah Ilmu
Indonesia, kerja kalian adalah kerja melahirkan peradaban, jangan lemah