jump to navigation

Sertifikasi Guru di Ujung Penantian September 15, 2007

Posted by arifinmh in Pendidikan.
add a comment

Sebuah perjalanan panjang menanti harapan baru bagi para pahlawan tanda jasa untuk mendapatkan limpahan kesejahteraan melalui amplop sertifikasi sebagai wujud profesionalisasi menjalankan sebuah profesi, yaitu GURU.

yang menjadi pertanyaannya apakah selama ini guru bukanlah suatu profesi? ataukah selama ini pula para guru tidak mampu menjalankan tugasnya secara profesional sehingga perlu untuk di sertifikasi?

Dua pertanyaan ini menjadi dasar beberapa pertanyaan yang lain yaitu; (1) apakah profesi guru selama ini kurang berjasa untuk mengantar seseorang untuk menjadi seorang presiden? (2) apakah profesi guru masih kurang berjasa untuk mengantarkan seorang untuk duduk di kursi DPR/MPR, (3) apakah profesi guru masih kurang berjasa untuk mengantar seorang menjadi menteri? (4) apakah profesi guru selama ini masih kurang untuk mengantarkan seorang menjalani profesi sebagai dokter, pakar hukum, polisi, militer dan ekonom dan masih banyak profesi yang lainnya? jawabannya kembali kepada para pemimpin negeri ini untuk lebih bijaksana dalam memberikan kesejahteraan pada suatu profesi yang belum dianggap profesi yakni GURU.

Pertanyaan lain yang perlu dijawab dan direnungkan oleh penguasa negeri ini adalah apakah selama ini para guru tidak memberikan kontribusi dalam mengangkat seoerang pribadi untuk menjadi pemimpin negeri? sehingga untuk mensejahterakannya harus melalui sertifikasi atau para pemimpin negeri ini sudah tidak percaya pada perjuangan para guru dinegeri tercinta ini?

Suatu hal yang perlu diingat oleh siapapun yang ingin membangun negeri ini adalah harus mensejahterakan para pahlawan tanpa tanda jasa ini untuk lebih tulus dan ikhlas mengabdikan jiwa dan raganya mencetak generasi muda negeri ini yang anti korupsi. jangan biarkan para guru untuk menjadi pemungut sampah dijalanan, jangan biarkan para guru ini untuk berbisnis dan mengajar hanya menjadi sampingan, jangan biarkan para guru dipontang-panting kesana kemari untuk mengumpulkan setumpuk berkas sementara kewajiban untuk mengoreksi, menyiapkan RPP, mencari referensi, jadi terbengkalai, saatnya pemimpin negeri ini untuk memberikan hak konkrit kepada pahlwan tanda jasa ini melalui kesejahteraan tanpa harus sertifikasi.

Mungkin perlu kita ingat suatu sejarah yang kelam di negara tetangga yakni Jepang yang pada saat itu terkena bom atom, siapakah yang mereka cari pertama kali, apakah seorang ekonom untuk menghitung kerugiannya? atau seorang arsitektur untuk membangun infrastrukturnya? atau seorang militer untuk membalas serangan musuh-musuhmya? atau seorang hakim untuk mengadili yang telah menghancurkannya atau seorang dokter untuk segera memberikan pertolongan kepada korban-korbannya?

Penduduk Negeri ini pasti tahu jawabannya bahkan penduduk seluruh dunia ini sudah tahu bahwa penguasa pada saat itu mencari dan menginventarisir berapa jumlah guru yang masih tersisa? mengapa demikian, karena dengan demikian dengan sisa guru yang ada negeri ini masih bisa untuk mencetak generasi-generasi ekonom yang handal, arsitek yang hebat, militer yang kuat, pemimpin yang cerdas dan pada kenyataan pemimpin Negeri ini menjadi Negara Adidaya didaratan Asia dan bersaing ketat dengan eropa bahkan negara amerika sekalipun yang sudah membombardirnya.

Mengapa semua pada lupa akan sejarah seorang GURU dapa membangun suatu negara yang adidaya?

Memang nasib seorang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tapi jika penguasa negeri ini tidak menghargai pahlawan tanpa tanda jasa ini alamat bangsa ini akan tidak akan menjadi negeri adidaya… karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya termasuk guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, kerana memang guru seharusnya tidak minta jasa, tapi penguasa mengerti untuk memberikan jasa-jasanya pada para GURU.

Kita mungkin masih ingat semua, bagaimana mudahnya seorang dokter untuk menarik pasiennya hanya hitungan detik, menit, dan jam tarifnya sudah begitu mahal, para anggota DPR yang nota bene dipilih rakyat termasuk guru dalam hitungan hari dan bulan sudah dapat menentukan kenaikannnya dan tunjangan sendiri dengan UU yang dibuatnya sendiri, sedangkan mereka lupa untuk memperhatikan nasib para guru yang telah memberikan kontribusi mencerdaskan kehidupan dirinya…. bahkan untuk mengiming-imingi gaji guru untuk sejahtera melalui sertifikasi guru yang pada akhirnya masih menjadi tanda-tanya bahwa sertifikasi guru diujung penantian…. karana sudah berapa lama UU guru dan dosen ini diterbitkan seingat saya sudah hampir dua tahun yang lalu semenjak adanya reposisi pemimpin negeri ini.

Selamat berjuang para guru, ku berdoa semoga pemimpin negeri ini teringat akan jasa dan jerih payahmu untuk mencetak kader terbaik bagi negeri tercinta ini.

Catatan: Sebuah perenungan untuk pemimpin negeri tercinta ini.

Marhaban Ya Ramadhan September 7, 2007

Posted by arifinmh in Religius.
add a comment

Ramadhan sebentar lagi….

 

Ramadhan akan tiba kembali… Selamat datang Ramadhan…. kurindukan kedatanganmu untuk Mensucikan diri, mendapat rahmat ilahi, ampunan dan bebaskan diri dari neraka. Ya Rabbi kuatkanlah jiwa kami, orang tua kami, keluarga kami, dan saudara kami memenuhi panggilanmu…. menunaikan Ibadah di bulan Suci Ramadhan untuk mencapai jati diri menjadi mukmin sejati dengan mecapai takwa dihadapan-Mu Ilahi Robbi. Marhaban Ya Ramadhan

Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan adalah suatu kewajiban yang jelas yang termaktub dalam Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya dan ijma’ kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian. Dan hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, supaya kalian bersyukur.” (Al-Baqarah:183-185)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Islam dibangun di atas lima hal: bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)

Berdasarkan sabda tersebut apabila kita melalai, mengabaikan atau bahkan meninggalkan dengan sengaja tanpa halangan apapun untuk meninggalkan ibadah puasa berarti kita sudah merapuhkan, meruntuhkan bahkan merobohkan tiang-tiang bangunan agama yang lainnya seperti sholat, zakat, puasa, bahkan keimanan sekalipun. Bahkan pendapat ulama yang sangat ekstrim telah memfatwakan bahwa mereka bersepakat akan wajibnya puasa Ramadhan, oleh sebab itu barangsiapa yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, berarti dia telah murtad dan kafir, harus disuruh bertaubat. Kalau mau bertaubat dan mau mengakui kewajiban syari’at tadi maka dia itu muslim kembali. Jika tidak, dia harus dibunuh karena kekafirannya.

Kewajiban Puasa Ramadhan di awali pada tahun kedua hijriyyah, namun demikian sebelum diperintahkankannya Puasa Ramadhan, Nabi Kita Muhammad SAW sudah melakukannya sendiri selama sembilan kali yang pada akhirnya menjadi syariat bagi seluruh ummatnya yang beriman kepada Allah SWT, sudah Baligh, berakal sehat dan tidak berhalangan apapun seperti sakit, perjalanan, haid, hamil dan menyusui atau halangan lainnya.


Hikmah dan Manfaat Puasa

1. Mendekatkan diri Kepada Allah (Taqorroban Illalah)

Salah satu keagungan bulan puasa adalah diturunkan rahmat Allah SWT, kepada hambanya yang beriman untuk berlomba-berlomba meningkatkan nilai-nilai ibadah (Fastabiqul Khoirot) kepada Allah seperti memperbanyak sholat wajib berjemaah ke masjid-masjid, musholah atau langgar-langgar yang biasa sepi tapi ketika bulan puasa penuh sesak dan ramai, selain itu juga memperbanyak sholat sunnah seperti tarawih, sholat malam dan witir. Rahmat yang lainnya yang diturunkan oleh Allah adalah dibukanya pintu hati setiap hambanya yang beriman untuk membuka, membaca dan mempelajarinya Al-Qur’an yang dibulan-bulan biasa seringkali kita tinggalkan akibat kesibukan kita bekerja, belajar, bermain dan kesibukan lainnya. Di bulan puasa ini pula Allah membukakan rahmatnya kepada orang-orang kaya untuk bersikap dermawan para fakir miskin atau kaum dhuafa untuk lebih perduli melalui lebih banyak untuk bersedekah, dan menyalurkan zakat fitrah, zakat mal dan zakat-zakat lainnya.

Fastabiqul Khoirot yang sudah dilaksanakan tersebut tidak lain dan tidak bukan untuk menentukan mencapai jati diri setiap manusia yang beriman kepada Allah untuk mencapai satu kata yakni TAKWA yaitu bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan lain-lainnya yang dilarang selama berpuasa baik perkataan dan perbuatan sdalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabbnya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (yaitu kampung akhirat –pent).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap amalan dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhariy no.1903)


Berdasarkan dalil ini, maka diperintahkan dengan kuat terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang diharamkan baik berupa perkataan maupun perbuatan, maka tidak boleh mencela, ghibah (menggunjing orang lain), berdusta, mengadu domba antar mereka, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan apa saja yang haram untuk didengarkan seperti lagu-lagu, musik ataupun nasyid, yang itu semuanya dapat melalaikan dari ketaatan kepada Allah, serta menjauhi segala bentuk keharaman lainnya.

2. Melatih Mental dan Disiplin

Apabila seseorang mengerjakan semuanya itu dalam satu bulan penuh dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah maka itu akan memudahkannya kelak untuk istiqamah di bulan-bulan tersisa lainnya dalam tahun tersebut. Selain itu juga akan melatih seseorang untuk menguasai hawa nafsu dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Sehingga ia akan mampu memimpin jiwanya untuk meraih menambah nilai-nilai kebajikan untuk mencapai kebahagiaan dan kebaikannya di dunia dan di akhirat. Karena orang yang berpuasa dengan penuh keimanan karena Allah SWT, maka ia akan mendapatkan balasan pengampunan Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW. Berikut :

“Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala kepada Allah maka diampuni dosanya yang telah lalu”

Dan dilanjutkan kembali dengan hadist yang lainnya yaitu

”Dan barangsiapa yang shalat di malam harinya (shalat tarawih) karena iman dan mengharap pahala kepada-Nya maka diampuni dosanya yang telah lalu dan barangsiapa yang shalat malam bertepatan dengan datangnya lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala kepada-Nya maka diampuni dosanya yang telah lalu.”

Akan tetapi betapa sedihnya, kebanyakan orang yang berpuasa tidak mampu membedakan antara bulan puasa dengan bulan-bulan sebelumnya dimana mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa mereka lakukan yakni meninggalkan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan dan mengerjakan hal-hal yang dilarang.

Oleh sebab itu wajib bagi seorang muslim untuk berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala kepada Allah semata, bukan karena riya`, sum’ah, ikut-ikutan kepada manusia, mengikuti jejak keluarganya atau penduduk negerinya, tapi murni karena menjalankan perintah-Nya sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Baqoroh 183 berikut:

”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Al-Baqarah:183)

3. Menjaga Kesehatan

Puasa juga mengandung berbagai macam manfaat kesehatan yang direalisasikan dengan mengurangi makan dan mengistirahatkan alat pencernaan pada waktu-waktu tertentu serta mengurangi kolesterol yang jika terlalu banyak akan membahayakan tubuh. Juga manfaat lainnya dari puasa sangat banyak.

Untuk lebih sempurnanya puasa kita dibulan suci ramadhan ada beberapa hal perlu kita perhatikan diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Makan sahur dan mengakhirkannya. sesuai sabda Nabi: “Makan sahurlah kalian karena di dalam sahur ada barakah.” (HR. Al-Bukhariy no.1923 dan Muslim no.1095)
  1. Berbuka puasa dengan Kurma (buah-buahan dan minuman yang manis-manis) tatkala telah jelas benar tenggelamnya matahari, berdasarkan sabda Nabi: “Senantiasa manusia berada dalam kebaikan selagi mereka menyegerakan berbuka puasa.” (Muttafaqun ‘alaih dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idiy)
  1. Memperbanyak shadaqah, amal kebaikan, berbuat baik kepada orang lain, terutama di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan tatkala Jibril menjumpainya untuk bertadarrus Al-Qur`an. (Lihat HR. Al-Bukhariy no.1902)

Daftar Pustaka

www.salafy.or.id dikutip dari Al Wala wal Bara, judul asli Kewajiban, Hikmah, & Adab-adab Puasa Ramadhan, Edisi ke-47 Tahun ke-2 / 15 Oktober 2004 M / 01 Ramadhan 1425 H , url sumber http://fdawj.atspace.org/awwb/th2/47.htm) yang bersumber dari kitab Fataawash Shiyaam karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Fataawash Shiyaam karya Asy-Syaikh Ibnu Baz dan lain-lain serta kitab Fataawal ‘Aqiidah wa Arkaanil Islaam karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dengan beberapa perubahan pada kata dan kalimat yang disesuaikan dengan pemahaman penulis.} Wallaahu A’lam.